ALT_IMG

Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Oleh: Zahrina NurbaitiMereka yang telah melangsungkan pernikahan, pastinya menginginkan terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah (SAMARA). Terlebih para aktivis dakwah, dimana proses pernikahannya dilalui dengan tanpa pacaran, karena yang ada hanyalah pacaran setelah menikah.Readmore...

ALT_IMG

Meriahkan Dunia Dengan Menikah

Mata adalah penuntun, hati adalah pendorong dan penuntut. Dan cinta adalah rahasia Illahi Rabbi. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan kawan yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia Readmore..

Alt img

Pertimbangan Dien dalam Menentukan Pasangan

Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka. Readmore...

ALT_IMG

Hakikat Cinta

Banyak orang-orang yang seringkali hadir dalam majlis-majlis ilmu tapi kehidupannya tetap terlihat gersang dengan seiring berjalannya waktu.Banyak orang-orang yangReadmore...

ALT_IMG

Segerakanlah

Seorang ikhwan yang telah berumur lebih dari 30thn datang kepada saya mengatakan sebuah niat baiknya bahwa dia ingin menikah. pernikahan yang sudah cukup terlambat bagi saya, tapi mungkin tidak dengan ikhwan tersebutReadmore...

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Januari 2013

Istri Adalah Manajer dan Partner

0 komentar
Wanita dinikahi bukan untuk melakukan aktivitas memasak dan mencuci. Apabila ia bisa memasak dengan rasa yang lezat itu adalah bonus, bukan kewajiban. Istri adalah manajer di dalam rumah. Namanya manajer seyognyanya punya staf alias anak buah maka tugas suamilah menyediakan pembantu untuk istrinya.

Seorang istri harus memastikan bahwa keadaan dan suasana rumah nyaman bagi penghuninya. Ia akan mengusahakan dengan sekuat tenaga agar anggota keluarga betah dan kerasan tinggal di dalam rumah. Sebagai manajer, ia yang bertanggungjawab atas kerapian, ketertiban, kebersihan dan kenyamanan rumah.

Oleh karena itu, seorang istri tidak boleh terlalu lelah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis seperti mencuci, ngepel, memasak dan sejenisnya. Sebab, tugas lain selain sebagai manajer juga memerlukan energi yang besar. Apa itu? Istri juga sebagai partner bagi suami. Ia adalah teman diskusi yang cerdas dan menyenangkan bagi suami.

Tugas istri begitu berat, sungguh tidak pantas seorang suami merendahkannya. Apabila ternyata istri Anda belum sanggup berperan sebagai manajer dan partner, maka tugas suamilah menyiapkan dan mendidiknya. Tanpa manajer dan partner yang hebat, pertumbuhan kesuksesan dan kemuliaan hidup Anda bisa terhambat dan tersendat.

Sebagai manajer dan partner, maka perlakukanlah istri secara terhormat. Dia bukan staf atau karyawan Anda. Dia juga bukanlah pembantu Anda. Bila Anda belum punya pembantu atau mungkin pembantu tidak masuk kerja, ringankanlah dan bantulah istri Anda.

Perlakuan kita terhadap istri akan sangat mempengaruhi perlakuan istri kepada anak-anak di rumah. Apabila kita memperlakukan istri secara terhormat maka akan berpeluang besar menghasilkan anak-anak yang percaya diri, memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian.  Dalam jangka panjang, anak-anak akan tumbuh ke arah hidup yang lebih bermartabat dengan karakter yang kuat.
Sudahkan kita memperlakukan istri sebagai manajer dan partner?

Salam SuksesMulia!
Jamil Azzaini 
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

http://www.islamedia.web.id/2012/12/istri-adalah-manajer-dan-partner.html
Continue reading →
Rabu, 28 November 2012

Sakinah dalam Berumah Tangga

0 komentar
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS Ar Rum: 21)

Pernikahan tidak hanya sekedar sebuah akad yang menghalalkan dua orang untuk memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami istri. Jika hanya sekedar akad, maka hal itu bisa diselesaikan dalam satu waktu saja, namun apa yang sesungguhnya ada di balik sebuah pernikahan?

“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lai (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil penjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu”. (QS. An Nisa: 21). Maka seperti yang Allah SWT sampaikan pada ayat diatas, pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho). Kata-kata mitsaqon gholizho ini terdapat tiga kali di dalam Al Quran.

Pernikahan ini bukanlah senda gurau, yang pada hari ini diucapkan akad, lalu beberapa saat kemudian bercerai dengan alasan yang lemah. Perjanjian Allah SWT dengan dua orang yang berakad nikah ini disejajarkan dengan perjanjian Allah SWT dengan Bani Israil (QS An Nisa: 154) dan perjanjian Allah dengan para Nabi (QS Al Ahzab: 7).

Membentuk rumah tangga yang sakinah menjadi tanggung jawab suami terutama mendidik keluarganya soal agama. Dan agama adalah masalah keyakinan. Maka penting buat laki-laki untuk mempersiapkan diri soal ini, dan wanita hendaknya pandai memilih pasangan yang dapat membimbing dia.

Bagi suami, hendaklah ia memberikan sesuatu yang patut dalam urusan nafkah serta menjadi imam atau teladan dalam keluarga. Imam tersebut termasuk menjadi imam salat. Dan istri, hendaklah ia menjaga rumah tangga yang dibangun bersama suaminya termasuk menutupi hal-hal yang kurang berkenan di hatinya bahkan pada orang tuanya sendiri.

Secara garis besar, berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasangan suami-istri (pasutri) masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT.

Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi, “kebahagiaan dunia akherat dan terhindar dari siksa neraka abadi”.

Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijah, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Ingatlah selalu bagi pasangan suami istri bahwa salah satu fungsi pasangan suami istri menurut Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun, mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka).

Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga.

Ingatlah firman Allah SWT di dalam surat An Nisa ayat 19, “Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya". Sekali lagi pernikahan itu ada kompromi di dalamnya. Bagaimanapun juga manusia berbeda satu sama lain, bukan? Setiap pasangan suami istri pastinya juga akan berbeda. Namun dengan perbedaan itulah dijadikan satu kekuatan. Wallahua'lam
Continue reading →
Jumat, 23 November 2012

Berikan yang Terbaik untuk Pasangan

0 komentar
Ilustrasi (blogspot.com/kembarasalik)

Oleh: Cahyadi Takariawan
Pernikahan telah menyatukan bukan saja tubuh dua insan –laki-laki dan perempuan, namun pernikahan telah menyatukan dua cinta, dua cita-cita bahkan dua jiwa yang berbeda. Suami dan istri berkolaborasi dalam kehidupan keluarga, dengan ikatan cinta kasih yang tulus, untuk menempuh kehidupan dalam kebersamaan. Keluarga telah meleburkan suami dan istri dalam sebuah ikatan yang sangat kuat –tidak ada ikatan sekuat dan sehangat ikatan yang muncul dalam pernikahan.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, suami dan istri harus berusaha saling memberikan yang terbaik kepada pasangan, bukan menuntut dari pasangan. Jika suami dan istri selalu memberikan yang terbaik, maka mereka akan mendapatkan pula dari pasangannya. Namun jika suami dan istri lebih mendahulukan menuntut dari pasangan, maka mereka tidak akan mendapatkan. Sikap menuntut ditunaikannya hak pasangan, merupakan sebentuk pengingkaran dari konsekuensi cinta kasih. Karena cinta itu artinya memberi, bukan menuntut diberi.

Dalam kehidupan keluarga, suami dan istri harus berlomba-lomba dalam memberikan yang terbaik kepada pasangan, dalam beberapa sisi berikut:

Berikan Perasaan Terbaik

Menikah itu bukan hanya bab memberikan tubuh kepada pasangan tetapi hatinya telah hilang dibawa kenangan. Pada beberapa contoh pasangan, mereka menikah karena keterpaksaan keadaan; dengan harapan akan segera bisa saling mencinta setelah hidup berumah tangga. Jika mereka benar-benar berusaha memberikan perasaan terbaik kepada pasangan, niscaya saling mencinta itu akan mereka dapatkan. Namun jika mereka tidak sungguh-sungguh dalam berusaha, mereka hanya hidup dalam kepura-puraan.

Perasaan cinta, kasih, sayang, rindu, mesra sebagai suami istri, harus diberikan secara spesial untuk pasangan hidup. Hanya untuk dia saja, tidak diberikan kepada yang lainnya. Jangan melewati hari-hari dalam kehidupan keluarga dengan hati hampa, tanpa cinta, tanpa rasa. Semua mengalir hampa dan waktu berlalu begitu saja. Berikan cinta, berikan rindu, berikan semua perasaan terbaik untuk pasangan hidup kita.

Berikan Pelayanan Terbaik

Suami harus berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk istri, dan sebaliknya istri harus memberikan pelayanan terbaik untuk suami. Akan sangat menyenangkan suami, apabila istri melayani keperluan suami saat pagi-pagi suami menjelang berangkat kerja. Istri menyiapkan berbagai keperluan suami untuk berangkat kerja, sejak pakaian, makanan hingga perlengkapan kerja. Akan sangat menyenangkan istri apabila suami melayani keperluan istri untuk persiapan kerja atau untuk melancarkan kegiatan rumah tangga.

Di rumah, di perjalanan, di ruang makan, di tempat tidur dan di manapun, suami harus selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk istri, dan istri harus memberikan pelayanan terbaik untuk suami. Mencoba-coba hal baru, variatif dan tidak monoton dalam memberikan pelayanan, akan lebih menyenangkan hati pasangan. Untuk itu, suami dan istri harus saling berlomba dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pasangannya.

Berikan Penampilan, Sikap dan Perlakuan Terbaik

Berikan penampilan, sikap dan perlakuan terbaik untuk pasangan Anda. Sikap lembut, wajah cerah, penampilan menarik, tubuh wangi dan harum merupakan sesuatu yang sangat disenangi pasangan. Mudah membantu, mau mengerti, selalu memahami, gampang memuji, merupakan sikap dan perlakuan yang sangat membahagiakan hati pasangan. Sebaliknya, penampilan acak-acakan, tidak rapi, tidak wangi, menjadi sikap yang tidak disukai pasangan.

Sikap cuek, tidak peduli, tidak mau mengerti kondisi dan masalah, merupakan siksaan bagi pasangan. Istri yang sibuk mengerjakan berbagai urusan dapur waktu pagi hari, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, akan sangat senang dan bangga jika suami menawarkan bantuan yang diberikan. Apalagi jika suami langsung mengambil alih beberapa kegiatan istri tanpa harus diminta, akan lebih membahagiakan hati istri. Sikap menolong dan melindungi seperti ini sangat dinantikan oleh pasangan.

Berikan Kata-kata Terbaik

Banyak suami mudah berkata-kata kasar kepada istri, dan banyak istri mudah berkata-kata keras kepada suami. Jika suami dan istri sudah membiasakan diri dengan kata-kata kasar, keras, ketus dan menyakitkan pasangan, akan menyebabkan suasana yang tidak nyaman dalam hidup sehari-hari mereka. Kehidupan keluarga tidak ubahnya seperti neraka atau penjara, masing-masing pihak berlaku saling menyerang, saling menyakiti, saling melukai pasangannya dengan kata-kata.

Sudah menjadi kewajiban suami untuk memberikan kata-kata, kalimat, ungkapan yang terbaik bagi istri. Sebaliknya, sudah menjadi kewajiban istri untuk memberikan kata-kata, kalimat dan ungkapan terbaik bagi suami. Jika kedua belah pihak berlomba memberikan kata-kata terbaik bagi pasangan, maka dalam kehidupan rumah tangga mereka selalu dijumpai kata-kata indah, mesra, santun dan penuh kelembutan. Ini akan memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak, karena tidak pernah mendengar kata-kata kotor, jelek, kasar, dan keji.

Ayo berlomba, berikan yang terbaik bagi pasangan kita. Jangan menunggu pasangan kita memberikan hal yang terbaik bagi kita, namun kita yang harus proaktif dan memulai memberikan hal terbaik bagi pasangan.

Selamat pagi, selamat beraktivitas.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/24054/berikan-yang-terbaik-untuk-pasangan/#ixzz2D6vr2h4N
Continue reading →
Kamis, 22 November 2012

Mengubah Konflik Menjadi Cinta

0 komentar

Sangat banyak alasan bagi suami dan isteri untuk terus berkonflik. Mereka berasal dari tradisi keluarga yang berbeda, mereka memiliki kebiasaan, pemikiran, kesenangan, perasaan yang tidak sama. Bahkan sering dikatakan, planet asal merekapun berbeda. Yang satu dari Mars, satu lagi dari Venus. Jika setiap satu perbedaan memunculkan satu konflik, maka setiap hari mereka akan selalu berada dalam ketegangan situasi yang tidak produktif.

Kenyataan yang kita lihat dalam kehidupan rumah tangga, memang selalu ada konflik dengan segala tingkatannya. Tidak ada keluarga tanpa konflik, yang membedakan adalah cara mereka menikmati, mengelola dan keluar dari konflik tersebut. Dengan demikian, tidak perlu berlebihan dalam memandang terjadinya konflik. Justru yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengubah konflik menjadi cinta yang menyala dalam keluarga.

Tiga Tingkat Konflik

Konflik tidaklah terjadi secara tiba-tiba, namun ada proses dan tingkatannya. Secara teoritis, konflik terjadi dalam tiga tingkatan.

Tingkatan pertama adalah the unvisible conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini masih ada di batin atau perasaan. Ada beberapa ketidakcocokan antara suami dengan isteri, tetapi ketidakcocokan itu tidak tampak atau tidak muncul dalam ucapan, sikap, dan tindakan. Ini adalah sebentuk ketidaknyamanan hubungan yang tidak diekspresikan, namun lebih banyak dipendam dalam hati dan pikiran. Suami dan isteri sama-sama merasakan ada sesuatu yang mengganjal, namun tidak diungkapkan.

Tingkatan kedua adalah the perceived / experienced conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini sudah sama-sama diketahui, dialami atau sudah tampak di permukaan. Suami dan isteri sudah sama-sama mengalami perbedaan yang muncul dalam bentuk percekcokan, pertengkaran atau perlawanan. Pemicu konflik bisa jadi karena perbedaan pendapat antara suami dan isteri, perbedaan harapan, keinginan, atau karena adanya tindakan yang tidak menyenangkan. Konflik bisa terjadi dalam bentuk kalimat yang diucapkan atau sikap yang ditampakkan.

Tingkatan ketiga adalah the fighting. Pada tingkatan ini, konflik sudah berubah menjadi tindakan fisik, seperti pukulan, tendangan, tamparan, atau tindakan lain yang bersifat fisik. Menurut kamus, fighting adalah melawan orang lain dengan pukulan atau senjata (blow or weapon). Dalam kehidupan rumah tangga, banyak terjadi pertengkaran suami dan isteri yang melibatkan aktivitas fisik dan “senjata”, seperti menggunakan alat pemukul, memecah piring, melempar gelas, merusak perabotan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Memahami tingkatan konflik ini akan sangat membantu bagi suami dan isteri untuk bisa menentukan sikap yang tepat pada saat menghadapinya. Hendaknya suami dan isteri tidak membiarkan konflik berkembang dari tingkatan pertama menuju tingkatan kedua dan ketiga. Deteksi dini adanya konflik di tingkatan pertama sangat diperlukan agar bisa segera mencari jalan keluar dan tidak membiarkannya berlarut-larut atau berlama-lama.

Keluar di Tingkat Pertama

Saat suami dan isteri mulai merasakan ketegangan hubungan, sesungguhnya tanda-tandanya sangat banyak dan mudah dikenali. Misalnya komunikasi tidak lancar. Isteri tidak bisa atau tidak berani berbicara dengan suami. Takut menyinggung, takut dimarahi, takut tidak ditanggapi. Suami tidak nyaman berbicara dengan isteri. Takut tidak nyambung, takut salah paham, takut direspon dengan berlebihan. Akhirnya saling memilih untuk diam, namun memendam perasaan yang tidak nyaman.
Bisa juga suami dan isteri berada dalam suasana sensitif yang berlebihan. Kata-kata kecil yang diucapkan suami atau isteri, mudah memunculkan emosi dan kemarahan pasangan, walaupun tidak diekspresikan. Komunikasi sering tidak nyaman, karena mudah salah paham dan berlebihan memahami kalimat yang diucapkan pasangan. Seakan-akan pasangan tengah menyindir atau mengejek dirinya.

Inilah gejala suami dan isteri sudah memasuki gelanggang konflik pada tingkat yang pertama. Ada suasana tidak nyaman, suasana ketidakcocokan antara suami dan isteri, namun hanya dipendam di dalam hati. Tidak ditampakkan, tidak diekspresikan. Masing-masih memendam rasa yang tidak mengenakkan kepada pasangan.

Jika gejala konflik tingkat pertama ini sudah dirasakan, segeralah mencari jalan keluar. Jangan biarkan perasaan tidak nyaman kepada pasangan ini bercokol dan bertahan berlama-lama dalam jiwa. Itu akan sangat menyakitkan dan menyiksa hati serta perasaan. Bahkan dikhawatirkan lama-lama akan menggerogoti cinta yang sudah ditanam dalam dada. Segeralah keluar dari zona tidak nyaman ini, agar tidak membahayakan keharmonisan hubungan anda bersama pasangan tercinta.

Cari waktu dan suasana yang tepat. Ajak pasangan anda berbicara, dalam suasana jiwa yang bening, pikiran yang jernih dan hati yang tidak diliputi emosi. Sampaikan permintaan maaf anda kepada pasangan, karena menyimpan perasaan yang tidak nyaman kepadanya. Jika perasaan itu berupa praduga tertentu kepada pasangan, konfirmasikan hal itu kepadanya. Ingat, jangan menyalahkan pasangan. Obrolan ini hanyalah untuk menyalurkan ganjalan yang selama ini mengendap di hati. Bukan forum untuk menghakimi, atau saling menyalahkan di antara suami dan isteri.

Bahkan lebih bagus lagi jika menggunakan canda agar suasana lebih cair dan nyaman bagi semua. Ada banyak kelucuan yang selama ini disimpan dalam kehidupan berumah tangga, yang bisa diungkapkan agar suasana menjadi santai dan tidak tegang. Dalam kenyamanan suasana, saling tertawa, saling menampakkan canda, perlahan-lahan kebekuan hubungan akan tercairkan. Berbagai hal yang mengganjal bisa dikeluarkan dan disalurkan, sehingga hati tidak lagi menyimpan sesuatu yang mengganjal dan tidak mengenakkan dari pasangan.

Jangan biarkan konflik tahap pertama ini berkembang dalam jiwa, karena lama-lama akan meningkat menuju konflik tahap kedua dan ketiga, yang akan semakin sulit untuk menyelesaikannya. Mumpung belum membesar, mumpung belum terlanjur, segera keluar pada tahap pertama ini.

Selamat beraktivitas. Selamat menikmati cinta.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2o8RCZnuwoobleVomb9SMwij-ehyphenhyphenV9Pj9XGZNg2-hvRgCiSMGWJfw-5AXjp_fyOyi9jQCLN3PT_0uogTJ5Oa6VE0DQx5aJyYmc_JW1RhbdoetWEEiTHAyZ_Q5PfXn4RuQzbrq_kN5J4U/s1600/Cahyadi+Takariawan.jpg
Cahyadi Takariawan

Sumber : http://www.islamedia.web.id/2012/10/mengubah-konflik-menjadi-cinta.html
Continue reading →

Untukmu Sayangku

0 komentar

Alhamdulillah, syukur yang tak pernah henti memang harus selalu kita panjatkan pada Allah, yang telah memberikan karunia untukmu, untukku dan untuk kita. Karunia keimanan, yang semoga Allah terus menjaga sampai akhir hayat kita. Dan semoga saat Allah memanggil kita, keimanan kita sedang berada di puncak. Inilah karunia besar yang harus selalu kita syukuri. Tanpa iman, segala kemewahan dan atribut dunia tidak ada nilai sama sekali.
Karunia hidup dalam komunitas dakwah yang dinamis, penuh kebaikan, keberkahan dan ukhuwah, bergaul, berinteraksi dan bekerja bersama-sama membangun peradaban mulia. Jalan ini adalah jalan panjang, penuh onak duri, jalan terjal, yang hanya mereka yang mendapat Rahmat Allah lah yang akan berhasil menjalaninya. Kita berdoa, semoga Allah memberi kekuatan, kesabaran dan kemudahan pada kita, agar tetap istiqamah berjalan di jalan mulia ini. Harapan ini pun kita panjatkan agar anak keturunan kita pun akan meneruskan estafet dakwah ini, menjadi salah satu mata rantai dari mata rantai panjang kafilah dakwah ini. Sebagaimana harapan yang juga diungkapkan oleh Nabi Zakaria, saat di usia tuanya berdoa kepada Allah memohon agar diberi keturunan yang akan meneruskan estafet perjuangan.
Karunia kebahagiaan hidup dalam keluarga. Taman kecil yang dari sini bermula peradaban. Kebahagiaan berkeluarga yang menjadi dambaan setiap insan di dunia. Meski tak bisa dipungkiri, kehidupan rumah tangga ini tak pernah sepi dari terjangan gelombang, tak pernah sepi dari ujian dan cobaan tak pernah sepi dari dinamika, namun, pelan tapi pasti, ujian-ujian tersebut alhamdulillah telah berhasil kita lewati, dan semua itu kita rasakan sebagai sebuah mekanisme yang Allah berikan untuk membuat kita makin bijaksana menjalani hidup ini. Meski kita pun sadar, perjalanan berikutnya mengayuh biduk rumah tangga ini juga pasti akan bertemu dengan berbagai ujian, gelombang yang lain, karena ini adalah sunnah dalam kehidupan. Hanya kepada Allah kita memohon kekuatan, kesabaran dan keteguhan, agar apapun bentuk ujian dari Allah, akan berhasil kita lalui dengan sukses. Sebagai nakhoda biduk ini, engkau tentu dituntut untuk lebih trampil mengendalikan, karena perjalanan ini boleh jadi akan makin berat, seiring dengan makin banyaknya tugas dan tanggung jawab serta amanah yang Allah berikan. Sementara secara fisik sunatullahnya kita makin lemah. Maka hanya pada Allah kita bersandar, hanya kepada Allah kita labuhkan harapan, semoga Allah selalu menolong kita dengan caraNYA.
Karunia anak-anak yang merupakan titipan/amanah Allah. Mereka adalah karunia, sekaligus ujian. Ujian, adakah kita tetap istiqamah mendidiknya menjadi insan yang bertaqwa harapan umat. Ujian, adakah dengan kehadirannya, telah membuat kita lalai ataukah tetap khusyu menjalankan fungsi kehambaan terhadapNYA. Ujian, adakah dengan kehadirannya membuat kita makin dekat atau justru makin jauh denganNYA. Ujian, adakah kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan kita dalam mendampingi mereka melewati jalan panjang kehidupan, sampai ke telaga kebahagiaan. Berat memang, tapi kita harus yakin kesungguhan kita berikhtiar dan kepasrahan kita padaNYa, dibarengi dengan doa tulus yang selalu kita lantunkan padaNYA, akan membuat semuanya terasa ringan. Laa haula walaa quwwata illa Billah.
Karunia kesehatan, yang dengannya menjadi modal untuk kita bisa meneruskan pengabdian pada sang Khalik. Tak henti tiap hari kita lantunkan doa allahuma aafini fie badaani. Allahumma aafini fie sam’i. Allahumma aafini fie baswhari. Kabulkanlah ya Rabbi, rintihan kami. Berilah kekuatan bagi kami untuk bisa menjaga dan merawat diri ini, amanah dariMU.
Karunia materi, yang kita harapkan keberkahannya, bukan semata jumlah dan tampilan fisik perabotan dan kendaraan. Bukankah semua itu juga adalah sekaligus ujian bagi keimanan kita (innamaa amwalukum wa aulaadukum fitnah). Ujian adakah kita mampu mensyukurinya, menjadi golongan yang sedikit (wa qalillan min ibadiyassyakuur). Mensyukuri apa yang ada, berharap sesuatu yang lebih baik dengan izinNYA, bersabar jika sesekali Allah kembali memintanya, untuk saudara, untuk kerabat, untuk mereka yang papa, untuk mereka yang tidak seberuntung kita. Bersyukur, karena selama ini Allah membimbing kita dan memudahkan kita untuk membantu mereka. Ujian, adakah kita mampu memberikan yang terbaik, yang paling kita cinta, untuk diberikan bagi jalan dakwah ini. Duhai, betapa malu hamba ini di hadapanMU ya Rabbi, merenungi ayat-ayatMU yang ini “innamal mu’minuuna ladziina aamanu billahi warasuulihi tsumma lam yartabuu wajaahiduu biamwaalihim wa anfusihim fie sabiilillah. Ulaaika hummushaadiqiin.” (QS Al Hujurot 15).
Karunia tetangga yang baik, teman-teman sejawat, kerabat dan saudara-saudara, yang dengannya hidup ini menjadi semakin dinamis dan bermakna, karena kita dilatih untuk bijaksana bergaul dengan berbagai karakter manusia. Dengan keberadaan mereka pula, kita dilatih untuk menerapkan prinsip naafiun lighairihi, bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sungguh ini adalah lahan subur untuk persemaian keimanan dan dakwah kita. Mohonlah padaNYA agar kita diberi kekuatan untuk bisa menyemai benih kebaikan di lahan subur ini. Agar kita diberi kekuatan bisa merawat tanamannya, sampai akarnya kokoh, batangnya tegak, daunnya lebat, dan buahnya memberikan kebahagiaan dan kemanfaatan bagi sekitarnya (QS 14: 24-25) Kepada Allah jua kita memohon kesabaran agar pohon-pohon ini tetap teguh meski angin kencang selalu ingin menumbangkan dan mematahkan cabang-cabangnya. Dan sejuta karunia dariNYA yang tak mungkin kita bisa menghitungnya.
Mari sejenak kita merenung, adakah banyaknya karunia Allah, bertambahnya usia kita, telah mengantarkan kita menjadi hamba yang makin dekat dengan keridhoaanNYA. Kini, jatah umur kita sudah berkurang. Perjalanan hidup ini, pasti akan berakhir. Ya pasti, ini adalah sunnatullah hidup. Semua yang bernyawa pasti akan kembali padaNYA. Kita semua akan kembali. Entah siapa yang akan lebih dulu kembali, itu tidak penting. Jauh lebih penting kesiapan kita, sehingga kita bisa memastikan Allah memanggil kita dengan kalamNYA: “ya ayyatuha nafsul mutmainnah irji’ie ilaa rabbika Raadhiyatan mardiyah, fadkhuli fie ibadie… wadkhulie jannatie…” (Qs Al fajr 27-30). Sebagaimana Allah telah memanggil para mujahidin di tanah Al Quds, Palestina…..
Allahumanshur ikhwanal mujaahidiina fi Filistin…..


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/24458/untukmu-sayangku/#ixzz2D1hjsQp3
Continue reading →
Sabtu, 21 Juli 2012

Sepucuk Surat Untuk Istri

0 komentar

TERUNTUK istriku tersayang, Ummi Shalihah dalam perjuangan mewujudkan ideal ismenya.
Alhamdulillah, alhamdulillah wa ba'da dzalika alhamdulillah... Puji syukur atas kemurahan Allah yang masih deras mengucurkan rahmat-Nya mengiringi langkah-langkah rumah tangga kita hingga hari ini. Betapa besar kasih sayang dan kelembutan-Nya pada diri kita, sehingga la masih berkenan memberikan hidayah kepada kita, meski ibadah tak sepadan dengan limpahan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Mi, tak terasa cukup lama kita rajut untaian benang rumah tangga kita. Ada tawa dalam canda, senyum dalam duka dan air mata bahagia. Meski tak jarang, seringkali kulihat engkau menahan tangis dan menyimpannya jauh dalam hatimu ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Tangisan hanyalah kelegaan sementara dan tidak akan menyelesaikan permasalahan. Yang kita lakukan adalah mencari solusi mengatasi persoalan tersebut, bukan menangisinya. Demikian ujarmu meghibur diri dengan nafas panjang dan seulas senyum kegetiran.

Mi, aku masih ingat saat itu. Engkau menghela nafas sambil menatap laci lemari yang kosong melompong. Laci itu memang menjadi saksi bisu manakala rizki kita mengalir, juga ketika tak ada rizki yang mampir. "Nggak ada uang ya Bi.." desismu lirih. Kamu pun duduk di sampingku dan menemaniku menekuri lantai semen kamar kita berdua, diiringi dengkuran halus kedua anak kita yang masih balita. Kita pun hanya diam. Larut dalam pikiran kita masingmasing.

Uang kita habis Mi. Saat itu memang kita tak punya uang kecuali beberapa recehan dan tiga lembar seribuan di dompetku. Tak ada uang tersisa di laci lemari kita. Barangkali, kita terlalu jelas mendefinisikan 'tidak ada', sehingga 'tidak ada' bagi kita adalah nol rupiah atau kosong melompong. Namun bukan berarti kita tidak punya rizki hari itu. Allah masih memberikan nikmat yang tak terhingga jumlah dan kualitasnya. Sayangnya, kita sering merumuskan rizki itu dengan uang dan materi. Padahal desah nafas, berfungsinya organ-organ tubuh kita dengan baik, sehatnya anak-anak dan diri kita adalah rizki yang luar biasa besarnya.

Mi, rizki materi milik kita sudah tertakar rapi sesuai dengan kadar kebutuhan yang ditetapkan oleh-Nya. Selama kita tak berpangku tangan, terus berusaha, berdoa dan bertawakkal, kita yakin rizki kita tak akan lari kemana-mana. Lantaran itulah aku yakin kamu tidak akan menyesal menikah denganku. Tempaan tarbiyah telah mengajarimu tentang hal itu dan kamu pun lebih tahu bagaimana kehidupan rumah tangga akhwat yang bersuamikan ikhwan sepertiku.

Kita memang masih jauh dari ukuran kemapanan clan penghasilan yang ideal. Bukan berarti karena kita mengabaikan begitu saja lowongan pekerjaan serta peluang yang tersebar itu. Melainkan karena kita begitu selektif dalam memilih ladang rizki. Bagi kita, pekerjaan tidak lepas dari perhitungan-perhitungan syar'i termasuk kadar ikhtilat di dalamnya. Masih terekam dalam memoriku ketika seorang kerabat menawarimu posisi strategis di kantornya karena melihatmu yang berpotensi dan lulusan S1 cumlaude yang masih nganggur. Syaratnya, asalkan kamu mau merubah tampilan jilbab dan jubah lebarmu supaya terlihat Iebih modis dan cantik. Kamu pun menolak dengan santun.

Mi, perjalanan iqamatuddin itu panjang, seperti rentangan garis lurus yang tak bertepi. Kata orang Matematlka, garis itu adalah himpunan titik-titik. Kamu bisa membayangkan, berapa milyar titik yang dlbutuhkan untuk membentuk sebuah garis, apatah lagi jika garis Itu tak terhingga panjangnya.

Titik-titik yang terhimpun di sepanjang garis Itu pada hakikatnya adalah cobaan dakwah kita. Begitu banyak dan njlimet. Lihatlah perjalanan iqamatuddin para Nabi dan Rasul serta pengikut-pengikutnya, betapa beragam cobaan dakwahnya, Mi. Hal itupun akan datang pada kita sebagaimana mereka mengalaminya. Mihnah (cobaan) dakwah diberikan oleh Allah untuk mengukur konsistensi kita. Bukankah AI-Qur'an telah memberi kabar itu.

"Apakah kamu menglra bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka dltimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta dlgoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat, (QS. AlBagarah : 214)

Kita baru dicoba oleh Allah pada titlk kenyataan sosial yang klta hadapi. Tarikan-tarikan sosial yang menguji keyakinan dan cita-cita, memang kerap muncul di tengah rumah tangga ikhwan-akhwat yang mencoba hidup mandiri dan menentukan jalan hidupnya sesuai dengan manhaj dan sunah Rasul-Nya. Berapa banyak diantara kita terpaksa mengalaml "perang dingin" dengan mertua atau keluarga dekat lainnya, lantaran mereka menganggap kita lain jika dibandingkan dengan kehidupan keluarga pada umumnya.
Mereka tldak salah Mi, karena kenyataannya memang demlklan. "Frame" berplklr kebanyakan masyarakat kita telah dibentuk oleh alam materialisme, sehingga terkadang mereka I upa terhadap nilai sebuah rumah tangga yang seharusnya. Kita harus kuat menerima kenyataan ini tanpa perlu bersitegang dengan mereka. Yang penting, klta berupaya mewujudkan sebuah rumah tangga yang sakinah di atas nilai-nilai yang klta pahaml dan yakini kebenarannya.

Mi... semua yang kita alami, hanyalah sepersekian dari rencengan mihnah yang akan klta hadapi. Belum ada apa-apanya jika dlbandingkan dengan saudara-saudara klta di Afghanistan, Palestina dan tempat-tempat lain yang tengah ditindas. Mereka kokoh dan tegar, bertahan dan berjuang. Bahkan dari merekalah ruhul jihad menggetarkan dan menggemuruhkan dada umat Islam dl belahan buml yang lain. Apalagi jika klta mau membandingkannya dengan Rasulullah dan para shahabat yang meletakkan asas di tengah-tengah kejahillyahan. Rasanya, malu untuk mengatakan bahwa kita tengah dicoba
Sabar ya Mi, bukankah karena kesabaranlah, para malaikat memasuki tempat-tempat di jannah dari semua pintu; seraya mengucapkan: "Salamun 'alaikum bima shabartum (kesela ma ta n atasmu, berkat kesabaranmu)" (QS Ar-Ra'du:24)... Semoga Allah mengumpulkan kita di Istana Firdaus-Nya yang indah, ya Mi.. .

Sumber : http://nurisfm.blogspot.com/2012/07/sepucuk-surat-untuk-istri.html
Continue reading →
Kamis, 07 Juni 2012

Membangun Rumah Tangga dengan Keikhlasan

1 komentar

Membangun rumah tangga muslim merupakan ibadah. Dasar membangun rumah tangga adalah keikhlasan karena perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya ingin mendapatkan pasangan hidup.

Dalam pelaksanaannya pun seperti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, bukan dengan cara-cara lain yang dilarang.

Sedangkan tujuan akhir dari pembentukannya adalah hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT, bukan kedudukan, harta atau keridhaan manusia. Karena itulah perlu adanya usaha ekstra, baik dalam mempersiapkan, memasuki gerbangnya dan berjalan diatas keagungan nilainya.

Kehidupan sebuah rumah tangga dapat diumpamakan sebagai sebuah bahtera. Keselamatan bahtera itu sangat tergantung dari kewaspadaan para penumpang diatasnya. Rasulullah saw memberikan gambaran bagaimana seharusnya hidup bersama dalam berumah tangga.

Rasulullah saw bersabda: "Perumpamaan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah SWT dengan mereka yang melanggarnya, bagaikan satu kaum yang menaiki sebuah bahtera. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bawah".

Dalam mengarungi samudra kehidupan terkadang bahtera itu miring ke kiri dan ke kanan. Satu saat tenang, dan di saat lain dihempas gelombang. Untuk itulah sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat di segala sisinya. Caranya adalah dengan selalu menjaga langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya serta selalu menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Kesejahteraan keluarga bukanlah terletak pada aspek fisik materi, tapi keterikatan anggota keluarga dengan aqidah, ibadah, akhlak dan pergaulan Islam, hingga seluruh kehidupan terwarnai dengan identitas Islam secara utuh.

Bagaimana kehidupan yang islami, dapat kita lihat dari suri tauladan kita Rasulullah saw. Karena Allah SWT sendiri telah menyatakan dalam Al-Qur'an : "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat Allah." (QS 33: 21)

Kita bisa mencontoh bagaimana Beliau salat dan beribadah, makan, minum, tidur, menjalin sillaturrahmi dengan para sahabatnya, dan sebagainya। Semoga dengan mencontoh perikehidupan Nabi SAW, kita juga bisa membangun keluarga terbaik dengan keridhaan dari Allah SWT.


Oleh Pramana Asmadiredja
http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/03/oleh-tarwiyah-membangun-rumah-tangga.html
Continue reading →
Minggu, 29 April 2012

Cintai Pasangan Kita Apa Adanya

0 komentar

Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup, tentu saja memiliki konsekuensi yang harus diambil atau jalani manakala diri ini telah tersibghoh (tercelup) dengan nilai-nila Islam.

Hal ini bisa dilihat di dalam QS Al Baqarah: 208 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu”.

Salah satu konsekuensi yang harus diambil setelah memutuskan untuk berhijrah yaitu menikah tanpa melalui pacaran. Karena dalam Islam memang tidak ada konsep pacaran (lihat QS 17: 32). Bagi seorang aktivis dakwah yang telah memutuskan untuk menikah tanpa melalui proses pacaran (dikenal dengan istilah ta’aruf secara Islami), terkadang yang tergambar dibenak kita adalah seorang ikhwan yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah seorang ikhwan yang benar-benar mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.

Ya, itu keinginan yang wajar serta manusiawi jika ingin pasangan hidup kita shalih/shalihah, menjaga pandangan pada yang bukan muhrimnya, berusaha selalu membantu pekerjaan isteri, dan sebagainya.

Selama ini penulis sering mendapatkan pertanyaan seputar rumah tangga, suami dan keluarga. Terkadang ada suami yang santai membaca koran, sedangkan isterinya sibuk memasak dan mengurus anak-anak, tanpa peduli untuk membantunya. Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita?

Berikut adalah tips bagaimana kita menyikapi pasangan hidup kita yaitu sebagai berikut: Pertama, terimalah ia apa adanya. Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar yang berbeda suku, kultur dan budaya serta pola asuh yang diterapkan pada masing-masing keluarga. Tentu saja tidak mudah merubah karakter yang telah melekat pada pasangan hidup kita. Namun Insya Allah dengan ikut tarbiyah, tentu saja perlahan-perlahan kita berusaha untuk menjadi pribadi yang kaffah.

Jangan pernah sekali-kali menbandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup teman kita. Yakinlah bahwa Allah pasti memberikan jodoh yang sekufu untuk kita. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-janjiNya?

Kedua, pandai bersyukur atas anugerah suami yang shalih. Sebagai seorang aktivis tentu saja, alhamdulillah kita harus bersyukur pada Allah SWT, yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidup kita yaitu seorang ikhwan yang se-visi dan se-misi dalam mengarungi rumah tangga dan juga dakwah yang mulia ini.

Coba kita bayangkan rumah tangga yang suaminya selingkuhlah, yang melakukan KDRT dalam rumah tanggalah, yang suami tidak salatlah. Sementara alhamdulillah, Allah SWT anugerahkan pasangan hidup kita yang selalu tilawah, rajin datang pertemuan mingguan, aktif dalam dakwah di masyarakat, mengerjakan yang sunnah. Sementara rumah tangga lain, mungkin suaminya sering berkata-kata kasar? Sementara kita?

Alhamdulillah, suami kita selalu berkata-kata lembut dan sangat menjaga perasaan kita, sebagai seorang isteri. Insya Allah karena suami kita memahami sebuah hadits yang mengatakan, “Sebaik-baik pria adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarga.” Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan?

Ketiga, saling menutup aib pasangan hidup kita. Sebagai aktivis, tentu saja kita juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi idealnya memang kesalahan para aktivis dakwah harus lebih sedikit dibandingkan yang lain. Bukankah kita selalu mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik, kita harus lebih dahulu mengamalkan apa yang kita sampaikan/ceramahkan?

Sebaiknya dalam berumah tangga, aib pasangan hidup kita, harus kita tutupi, tidak perlu kita ceritakan pada orang lain, sekalipun kepada keluarga dekat kita. Biarlah semua hanya suami dan isteri saja yang tahu akan aib pasangan hidup kita. Yakinlah di setiap kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah berikan banyak kelebihan pada dirinya. Bukankah setiap pasangan hidup merupakan pakaian bagi pasangan hidupnya?

Keempat, saling meningkatkan diri dan potensi pasangan hidup kita. Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa gambaran rumah tangga, yaitu rumah tangga laba-laba, rumah tangga seperti rumah sakit, rumah tangga seperti rumah tangga pasar dan rumah tangga kuburan. Yang terbaik adalah rumah tangga seperti rumah tangga masjid. Di mana dalam rumah tangga tersebut tercipta suasana saling asih, asah dan asuh.

Suami dan isteri pun harus meningkat dari sisi ketakwaan, dari sisi pendidikan, dari sisi ekonomi, sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Suami tidak boleh membiarkan isteri untuk tidak berkembang, terutama dari sisi tsaqofah (pengetahuan). Jika memang ada rezeki, tidak salah jika isteri diizinkan untuk melanjutkan kuliah kembali, atau meneruskan kuliahnya kembali (karena keburu dikhitbah) ketika skripsinya misalnya. Insya Allah indah sekali manakala kita mampu menciptakan rumah tangga seperti rumah tangga masjid.

Semoga dengan tulisan sederhana ini, insya Allah mampu memberikan semangat dan motivasi untuk kawan-kawan semuanya, yang shalih dan shalihah untuk segera mewujudkan niat yang suci yaitu menggenapkan setengah dien, yakinlah menikah tidaklah serumit dan sekompleks apa yang dibayangkan sebagian orang.

Justru dengan menikah, insya Allah kekuatan kontribusi dakwah akan semakin besar, karena di tengah lelahnya kita pulang berdakwah, sudah menanti pasangan hidup kita, yang siap kita berlabuh dan berbagi tentang suka duka kehidupan ini.

Insya Allah untuk masalah rezeki, yakinlah apa yang kita berikan untuk pasangan hidup kita, akan menjadi tambahan amal shalih kita dan akan Allah cukupkan rezekiNya bagi yang ingin menggenapkan setengah dien nya. Amin ya Robbal ‘Alamin.

Oleh: Zahrina Nurbaiti

Sumber :http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/cintai-pasangan-kita-apa-adanya.html
Continue reading →
Selasa, 24 April 2012

Pasangan Suami Istri & Keindahan Yg Terlupakan

0 komentar

Wahai sang suami ....

Adakah yang menghalangi untuk tersenyum di hadapan istri ketika masuk rumah menemui istri tercinta.

Adakah yang membebani untuk berwajah berseri- seri ketika melihat anak dan istri.

Adakah yang menyulitkan untuk memeluk istri, mengecup pipi serta bercumbu disaat "menghampiri".

Adakah yang memberatkan untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkan di mulut istri, karena yang demikian mendapat pahala.

Adakah susah, ketika masuk rumah mengucapkan salam dengan lengkap: "Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh" agar meraih 30 kebaikan.

Apa yang membebani, untuk menuturkan untaian kata-kata baik yang disenangi kekasih, dengan segala ketulusan.

Tanyalah keadaan istri saat masuk rumah.

Adakah yang memberatkan, sekiranya menuturkan kepada istri saat masuk rumah: "Berpisah sesaat meninggalkanmu serasa bagaikan setahun". Sesungguhnya, untuk betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau letih dan lelah, mendekati sang istri tercinta dan "menghampirinya", mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda:
"Dan di air mani seorang diantara kalian ada sedekah".
Apakah melelahkan, untuk berdoa: "Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya". 

Wahai sang Istri ...

Apakah akan membahayakan sekiranya menemui suami dengan wajah berseri, dihiasi senyum manis di saat dia masuk rumah.

Apakah memberatkan, apabila menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta
mengecup pipinya.

Apakah merasa sulit, menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah dan tetap berdiri sampai dia duduk. Mungkinkah menyulitkan, jika berkata kepada suami: "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat dating kekasihku".

Beratkah berdandan untuk suami -mengharap pahala dari Allah di waktu berdandan, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- memakai parfum, dan bermake up, serta memakai busana indah menyambut suami. Itu lebih tepat daripada dilakukan hanya ketika akan keluar dari rumah.

Tidak bisakah menjauhi bermuka masam dan cemberut. Menghindari perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisan dengan suami.
Beratkah menghilangkan raut sedih dan gelisah, berlindung kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Sulitkah tidak berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lembut berlebihan, sehingga orang yang di hatinya ada penyakit mendekati dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu

Tidak baikkah selalu berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram dan ingat kepada Allah setiap saat. Tidak bisakah meringankan suami dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Mendidik anak-anak dengan baik, Mengisi rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, memperbanyak membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.

Membangunkan suami untuk melaksanakan shalat malam, mendukung untuk puasa sunat, mengingatkan keutamaan bersedekah dan tidak menghalangi untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabat. Memperbanyak beristighfar untuk diri, suami, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoa kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat.

Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang berulang dalam meminta. Allah berfirman: "Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir : 60).
Alangkah indahnya dunia bagi orang yang beriman. Dengan mengikuti garis dan ketentuan dari Allah segalanya penuh kebaikan. Demikianlah luasnya keagungan Nya. Ucapan baik adalah sedekah. Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri/ suami adalah sedekah. Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan. Berjabat tangan menggugurkan dosa-dosa. Berhubungan badan mendapatkan pahala.

Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2011/10/pasangan-suamii-stri-keindahan-yg.html
Continue reading →
Kamis, 19 April 2012

CINTA...

0 komentar
Allah SWT menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang mencakup cinta kepada-Nya dan mengutamakan ridha-Nya, serta yang menuntut adanya makrifah terhadap-Nya.

Allah menganugerahkan ilmu kepada hamba-hamba-Nya yang tiada kesempurnaan bagi mereka tanpanya, sehingga semua gerak-gerik mereka sesuai dengan apa yang dicintai dan yang diridhai Allah SWT.

Allah mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan menetapkan syariat-Nya. Kesempurnaan hakiki seorang hamba adalah kalau gerak dan aktivitasnya selaras dengan apa yang dicintai Allah SWT. Allah menjadikan ittibaa' (mengikuti) rasul-Nya sebagai bukti cinta kepada-Nya. "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31)

Orang yang benar-benar cinta akan menganggap dirinya berkhianat kepada kekasihnya apabila dia bergerak dengan seenaknya sendiri di luar keridhaan kekasihnya. Dan apabila ia melakukan suatu perbuatan yang dibolehkan karena dorongan tabiat manusiawi dan instingnya sendiri, ia pun bertaubat seperti taubat karena dosa.

Hal ini makin menguat pada dirinya sampai akhirnya segala hal yang dibolehkan baginya berubah menjadi bernilai taat dan ibadah. Tidur, makan atau istirahatnya berpahala seperti nilai tahajud, puasa, dan amalan lainnya. Senantiasa berada antara kebahagiaan yang ia syukuri dan malapetaka yang ia sabar menghadapinya. Selalu berjalan menuju Allah SWT kala tidur maupun sadar.

Orang yang benar-benar jatuh cinta, bila berkata, ia berkata karena Allah SWT, dan bila diam juga diam karena Dia. Jika bergerak, geraknya itu adalah karena perintah Allah SWT; dan apabila diam, maka diamnya itu untuk mengumpulkan tenaga guna melaksanakan ibadah. Dirinya untuk Allah SWT, karena Allah SWT, dan bersama Allah SWT.

Tanpa ilmu tidak dapat membedakan mana gerak yang dicintai Allah SWT dan yang dibenci, mana diam yang disukai Allah dan mana yang dibenci. Saat ditanya siapakah orang yang hina-dina itu, Dzun Nun menjawab, "Orang yang tidak mengetahui jalan menuju Allah SWT dan tidak berupaya mengetahuinya."

Siapa yang telah mengetahui jalan kebenaran, maka terasa mudah baginya menempuhnya. Tidak ada petunjuk di jalan itu selain mengikuti Rasulullah saw. dalam perkataan, perbuatan, dan sikap beliau.

Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2012/01/cinta.html
Continue reading →
Rabu, 18 April 2012

Akhlak dan Perilaku Mulia Dalam Kehidupan Rumah Tangga

0 komentar

Oleh: Mai Muthiah

Seringkali pihak ketiga dianggap faktor utama yang memicu pertikaian di dalam rumah tangga. Namun jika kita pelajari lebih dalam lagi, segala ketidakserasian rumah tangga yang terjadi lebih disebabkan oleh akhlak dan perilaku serta komunikasi suami atau istri sendiri.

Terkadang sikap jauh dari tuntunan agama yang dipraktikkan dapat memupuk tiap perselisihan antara suami dan istri, kemudian menumbuhkan konflik yang dapat berbuah perceraian.

Tidak ada manusia yang lebih sempurna akhlak dan perilakunya daripada Nabi SAW sebagai panutan sekaligus suatu anugerah dari Allah SWT yang telah memberi taufik kepada beliau. Tidak ada satu pun kebagusan dan kemuliaan melainkan didapatkan pada diri beliau dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama. Sahabat Anas bin Malik ra yang selalu menyertai Nabi SAW menyatakan, “Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam manusia yang paling bagus akhlaknya”.

Gambaran apa saja yang diperintahkan Alquran selalu beliau lakukan. Dan apa saja yang dilarang Alquran beliau tinggalkan. Selain Allah SWT menciptakan beliau dengan tabiat dan akhlak yang mulia seperti rasa malum, dermawan, berani, penuh pemaafan, sangat sabar dan lain sebagai dari perangai-perangai yang baik.

Kebagusan akhlak beliau juga ditunjukkan ketika bergaul dengan istri, sanak family, sahabat, masyarakat bahkan dengan musuhnya sekalipun. Maka tidak heran masyarakat Quraisy yang paganis ketika itu memberi gelar pada beliau “Al Amin” artinya orang yang terpercaya, jujur, tidak pernah dusta lagi amanah sebagai bentuk pengakuan terhadap salah satu pekerti beliau yang mulia.

Keberadaan Rasulullah SAW sebagai pemimpin tiap hari tersibukkan dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka bukanlah menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istri di rumah. Bahkan didapati beliau adalah orang yang perhatian terhadap pekerjaan di dalam rumah sebagaimana persaksian Aisyah ra ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluar untuk menunaikan shalat”. Sifat penuh pengertian, kelembutan, kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada diri Rasul.

Cerita dan kisah di atas memberikan gambaran kepada kita semua tentang indahnya rumah tangga seorang muslim yang memerhatikan akhlak mulia dalam pergaulan suami istri sebagaimana rumah tangga Rasulullah SAW.

Sehingga perhatian terhadap kemuliaan akhlak ini menjadi satu keharusan bagi seorang suami maupun seorang istri. Karena terkadang ada orang yang bisa bersopan santun berwajah cerah dan bertutur manis kepada orang lain di luar rumah namun hal yang sama sulit ia lakukan di dalam rumah tangganya.

Ada orang yang bisa bersikap pemurah kepada orang lain, ringan tangan dalam membantu, suka memaafkan dan berlapang dada, namun giliran berhadapan dgn “orang rumah” istri ataupun anak sikap seperti itu tidak tampak pada dirinya.

Menyinggung akhlak Rasulullah SAW kepada keluarga, maka hal ini tidak hanya berlaku kepada para suami, sehingga para istri merasa suami sajalah yang tertuntut untuk berakhlak mulia kepada istrinya. Sama sekali tidak dapat dipahami seperti itu. Karena akhlak mulia ini harus ada pada suami dan istri sehingga bahtera rumah tangga dapat berlayar di atas kebaikan. Memang suamilah yang paling utama harus menunjukkan budi pekerti yang baik dalam rumah tangga karena dia sebagai qawwam, sebagai pimpinan.

Lalu suami juga dituntut untuk mendidik anak istri di atas kebaikan sebagai upaya menjaga mereka dari api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakar adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan”. (QS At Tahrim: 6)

Seorang istri juga harus memerhatikan perilaku kepada sang suami sebagai pemimpin hidupnya. tidak pantas seorang istri “memperlihatkan” kepada suami ucapan yang kasar, sikap membangkang, membantah dan mengumpat.

Tidak semestinya ia tinggi hati terhadap suami baik dari sisi keturunan, kekayaan dan setinggi apa kedudukannya. Tidak boleh juga ia melecehkan keluarga suami, menyakiti orang tua suami, menekan suami agar tidak memberikan nafkah kepada orang tua dan keluarganya.

Dan kenyataannya, banyak didapati istri yang berani kepada suaminya, bahkan tidak segan saling berbantah dengan suami bahkan lebih parahnya lagi adu fisik. Ia tidak merasa berdosa ketika membangkang pada perintah suami dan tidak menuruti kehendak suami. Ia merasa tenang-tenang saja ketika hak suami ia abaikan.

Nabi SAW juga memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang perbendaharaan harta mereka yang terbaik di mana harta ini lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah, yang cantik lahir batin. Karena istri yang seperti ini akan selalu menyertai suaminya. Bila dipandang suami ia akan menyenangkannya.

Ia tunaikan kebutuhan suami bila suami membutuhkannya. Ia dapat diajak bermusyawarah dalam perkara suami dan ia akan menjaga rahasia suaminya. Bantuan kepada suami selalu diberikan, dan ia menaati perintah suami. Bila suami sedang bepergian meninggalkan rumah ia akan menjaga diri harta suami dan anak-anaknya.

Wahai para istri shalihah, perhatikanlah akhlak kepada suami dan kerabatnya. Ketahuilah akhlak yang baik itu berat dalam timbangan nanti di hari penghisaban dan akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga.

Abu Hurairah ra berkata: “Rasulullah ditanya tentang perkara apa yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga. Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik. Ketika dita tentang perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau jawab ‘Mulut dan kemaluan’.

Untuk para suami, hendak pula memperhatikan pergaulan dengan istri, karena Nabi SAW bersabda: “Mukmin yg paling sempurna iman adl yg paling baik akhlak dan sebaik-baik kalian adl yg paling baik terhadap istri-istrinya.” Wallahua’lam.


*) Mai Muthiah, tinggal di Purwakarta

Sumber :http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/akhlak-dan-perilaku-mulia-dalam.html
Continue reading →