Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25650/kebahagiaan-istri-adalah-kebahagiaan-suami/#ixzz2FlL81IIX
Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
Oleh: Zahrina NurbaitiMereka yang telah melangsungkan pernikahan, pastinya menginginkan terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah (SAMARA). Terlebih para aktivis dakwah, dimana proses pernikahannya dilalui dengan tanpa pacaran, karena yang ada hanyalah pacaran setelah menikah.Readmore...
Meriahkan Dunia Dengan Menikah
Mata adalah penuntun, hati adalah pendorong dan penuntut. Dan cinta adalah rahasia Illahi Rabbi. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan kawan yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia Readmore..
Pertimbangan Dien dalam Menentukan Pasangan
Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka. Readmore...
Hakikat Cinta
Banyak orang-orang yang seringkali hadir dalam majlis-majlis ilmu tapi kehidupannya tetap terlihat gersang dengan seiring berjalannya waktu.Banyak orang-orang yangReadmore...
Segerakanlah
Seorang ikhwan yang telah berumur lebih dari 30thn datang kepada saya mengatakan sebuah niat baiknya bahwa dia ingin menikah. pernikahan yang sudah cukup terlambat bagi saya, tapi mungkin tidak dengan ikhwan tersebutReadmore...
Kebahagiaan Istri adalah Kebahagiaan Suami
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25650/kebahagiaan-istri-adalah-kebahagiaan-suami/#ixzz2FlL81IIX
Jalan Panjang Bernama Pernikahan
Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.
Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).
Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.
Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup karena iklim dalam rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan mesra. Namun, proses membina pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta bahagia sering tidak semulus yang dibayangkan oleh kebanyakan pasangan.
Dengan adanya pernikahan, hal itu menunjukkan sejauh mana pasangan mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil pasangan suami istri itu mampu menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri akan menyadari bahwa hal-hal yang berjalan dengan baik pada tahap-tahap awal pernikahan mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada tahap-tahap berikutnya, yakni ketika pasangan suami istri menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dalam hubungan berumah tangga.
Sepanjang perjalanan pernikahan, semua pasangan pasti akan menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan-tekanan tersebut bisa berasal dari luar pernikahan, bisa juga dari dalam pernikahan itu sendiri, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri masing-masing pasangan.
Pasangan suami istri harus dapat dan mampu menyesuaikan diri dengan pasangan, untuk hidup harmonis, menyeimbangkan tugas-tugas, karir yang sedang menanjak, membesarkan anak-anak dan memberikan dukungan satu sama lain adalah tugas yang sangat kompleks dilakukan pasangan suami istri.
Banyak pasangan suami istri yang terkejut, saat mereka mendapati bahwa konflik lama belum terselesaikan. Dia akan muncul dari orang tua, saudara kandung, atau di luar pasangan. Mereka akan muncul kepermukaan dalam hubungan pernikahan. Dan setiap konflik tersebut menunjukkan adanya tuntutan yang besar terhadap pasangan suami istri ketika mereka berusaha menghadapi berbagai persoalan, belajar memahami arti pengorbanan pada berbagai tingkatan yang baru dan bagaimana mempercayai orang yang dicintai.
Pernikahan tidak selalu menghasilkan banyak tuntutan bagi orang-orang yang menjalaninya. Orang-orang tua kita terdahulu tidak begitu peduli dengan hal-hal tersebut. Bagi mereka pada umumnya, pernikahan adalah bagian dari kelangsungan hidup. Suami mencari nafkah sedangkan istri merawat rumah dan anak-anak.
Namun, kini berumah tangga kehidupan semakin kompleks, dan tuntutan adanya keintiman dalam pernikahan generasi pendahulu, yaitu orang tua kita tidaklah sebesar tuntutan generasi sekarang. Dewasa ini, pasangan suami istri menginginkan jauh lebih banyak hal dari pernikahan.
Mulai dari kehidupan materialist, fisik yang indah, keilmuan, ras, sosial masyarakat. Harapan-harapan yang lebih tinggi itu, pasangan terkadang lupa pada tanggung jawab masing-masing, oleh karena itu pasangan suami istri sangat perlu mengetahui arti pernikahan.
Ya, karena pernikahan merupakan jalan yang aman bagi manusia untuk menyalurkan naluri seks. Pernikahan dapat memelihara dan menyelamatkan keturunan secara baik dan sah. Di samping itu, pernikahan pada dasarnya menjaga martabat wanita sesuai dengan kodratnya.
Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan. Wallahua’lam.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25406/jalan-panjang-bernama-pernikahan/#ixzz2FPHlvOCM
Sakinah dalam Berumah Tangga
Pernikahan tidak hanya sekedar sebuah akad yang menghalalkan dua orang untuk memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami istri. Jika hanya sekedar akad, maka hal itu bisa diselesaikan dalam satu waktu saja, namun apa yang sesungguhnya ada di balik sebuah pernikahan?
“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lai (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil penjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu”. (QS. An Nisa: 21). Maka seperti yang Allah SWT sampaikan pada ayat diatas, pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho). Kata-kata mitsaqon gholizho ini terdapat tiga kali di dalam Al Quran.
Pernikahan ini bukanlah senda gurau, yang pada hari ini diucapkan akad, lalu beberapa saat kemudian bercerai dengan alasan yang lemah. Perjanjian Allah SWT dengan dua orang yang berakad nikah ini disejajarkan dengan perjanjian Allah SWT dengan Bani Israil (QS An Nisa: 154) dan perjanjian Allah dengan para Nabi (QS Al Ahzab: 7).
Membentuk rumah tangga yang sakinah menjadi tanggung jawab suami terutama mendidik keluarganya soal agama. Dan agama adalah masalah keyakinan. Maka penting buat laki-laki untuk mempersiapkan diri soal ini, dan wanita hendaknya pandai memilih pasangan yang dapat membimbing dia.
Bagi suami, hendaklah ia memberikan sesuatu yang patut dalam urusan nafkah serta menjadi imam atau teladan dalam keluarga. Imam tersebut termasuk menjadi imam salat. Dan istri, hendaklah ia menjaga rumah tangga yang dibangun bersama suaminya termasuk menutupi hal-hal yang kurang berkenan di hatinya bahkan pada orang tuanya sendiri.
Secara garis besar, berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasangan suami-istri (pasutri) masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT.
Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi, “kebahagiaan dunia akherat dan terhindar dari siksa neraka abadi”.
Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijah, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Ingatlah selalu bagi pasangan suami istri bahwa salah satu fungsi pasangan suami istri menurut Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun, mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka).
Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga.
Ingatlah firman Allah SWT di dalam surat An Nisa ayat 19, “Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya". Sekali lagi pernikahan itu ada kompromi di dalamnya. Bagaimanapun juga manusia berbeda satu sama lain, bukan? Setiap pasangan suami istri pastinya juga akan berbeda. Namun dengan perbedaan itulah dijadikan satu kekuatan. Wallahua'lam
Pernikahan adalah Ibadah

Pernikahan adalah ibadah. Ia tidak sekedar upacara untuk mengumumkan kepada masyarakat mengenai status pernikahan.
Niatkan bahwa pernikahan sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi dalam pernikahan ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan Rasul-Nya.
Tekadkanlah dalam hati, sejak dari awal, untuk menjaga amanah ini hingga ajal tiba. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan pasangan suami istri (Pasutri) selanjutnya. Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, Allah SWT akan selalu berkenan hadir dalam kehidupan pasutri selanjutnya, baik dikala gembira maupun disaat duka.
Al Quran mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnya terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya.
Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.
Kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh Iblis. Sebagai musuh abadi manusia, Iblis sang pewaris neraka akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga.
Salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan pasutri dalam keluarga dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam.
Karena setiap pasutri mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Karena itu membuka pintu maaf seluas-luasnya adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia.
Agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasutri dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Wallahua’लम
http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/03/pernikahan-adalah-ibadah.html
Biarlah Cinta Menjadi Saksi

Ditulis oleh: Cecep Y Pramana
Jika semua bahtera dunia menjadi nyata
Betapa indah tepa selira
Saling dukung tuk menumbuhkan Cinta
Menggapai ridha dari Sang pemilik Cinta
Jika saja cinta tak pernah ada dalam kamus hati
Niscaya tak kan berarti diri berdekat Ilahi
Semua manusia bersatu janji
Sujud padamu wahai sang Rabbi
Jika saja berandai-andai bukan barang haram
Tak kan kulepas semua khayalan
Namun semua bukanlah kenyataan
Karena hanya amal yang membuktikan
Wahai Rabb Dzat pemilik Iqab
RahmatMu terbentang tak berbataskan
Bagi setiap hamba yang mengharapkan
CintaMu luas meliputi langit dan Bumi
KaryaMu nyata bagai surya di jagad raya
Ampuni hamba yang terlelap dosa
Berderap langkah dengan banyak manusia
Diatas keterbatasan segala daya
Wahai Al-Jaliil pemilik ghafur
Izinkan hamba sujur tersungkur
Tanda rasa cinta beriring syukur
dihadapanMu memuji syukur
Atas rahmat yang Engkau tabur
Semoga Cinta menjadi bunga
Sahabat menjadi pemicu Asa
Semerbak di hati setiap manusia
Mengawal panji sang Maha Esa
Wahai Rabb, dekatkan cinta dari hati ini
Pada setiap manusia yang memujiMu
Tumbuhkan ia dengan cintaMu
Pada sesama saudara yang mencintaiMu
Biarlah cinta menjadi saksi
Pada setiap manusia yang Engkau ridhoi
Jika menuntun kami pada jalanMu ke Surga nanti
Ya Rabb
Jauhkanlah benci dari hati kami
Wahai Dzat pemilik Rahman
Andai ia hanya mampu berkaca diri tanpa mampu berbaik diri
Sayangilah saudaraku yang akan melangsungkan resepsi Cinta
Yang karena cintanya pada Engkau
Ampunilah saudaraku jika mereka terselip dosa
Hingga ajal menjemput nanti
Kumpulkan kami di SurgaMu nanti
Sungguh indah dan Adil Engkau wahai Dzat pemilik segala iradah
Engkau ciptakan Cinta dan Benci
Penghias hidup sebelum mati
Tumbuhkanlah keduanya ya Allah
Dalam bahtera suci
Dalam bahtera cinta
Dalam mahligai rumah tangga
Jadikanlah kami orang yang mencintai
Dan membenci hanya karena Engkau
Sumber: dakwatuna.com
Menanti Datangnya sang Pangeran dan Bidadari

Disaat hatinya ‘galau’ menanti pangeran ataupun bidadari yang tidak kian datang, tanganpun membentangkan sajadah setiap malam. Duka yang datang karena kerinduan yang sangat mendalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada.
Jiwa yang rapuh bisa berkisah pada alam serta isinya. Lalu ia bertanya, dimanakah pasangan jiwanya berada, apakah akan datang hari ini, esok, lusa atau kapan?. Lalu, hati pun menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.
Keinginan yang kuat untuk bertemu pangeran dan bidadari serta belahan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah dari manusia? Allah SWT berikan itu semuanya. Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan.
Dan sebuah fitrah pula jika setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang shaleh dan shalehah.
Dan setiap pria ingin menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anaknya daripada memikirkan kehidupan yang di jalani dalam kesendirian. Dengan sentuhan motivasi dan jiwa kesatria, akan terbentuk pribadi-pribadi terbaik dan mumpuni.
Wahai jiwa yang gelisah, janganlah dirimu selalu bersedih dan menangis di setiap penghujung malam, karena hanya tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pangeran dan bidadari belahan jiwa dan hatinya.
Menangislah karena air mata permohonan kepadaNya di setiap sujud dan keheningan pekat sepertiga malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik dan keridhaan kepada Sang Pemilik Jiwa, Allah Rabbul Izzati.
Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Siramlah selalu hati ini dengan tarbiyah Ilahi, hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian yang terus panjang. Karena pastinya akan menemukan kedamaian dan kesejukan hati.
Wahai jiwa yang sedang gelisah, bukankah jika sudah saatnya tiba, maka ‘jodoh’ tak akan lari kemana. Dia tidak akan salah jalan atau salah menemukan pasangannya. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskanNya, hanya ikhtiar pembangkit motivasi jiwa.
Bukankah mentari akan selalu menyinari sekaligus menghiasi pagi dengan kemewahan dan kegagahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Hari-hari terbaik akan selalu menjadi belahan jiwa kita, menemani dan menanti datangnya sang pangeran dan bidadari pujaan hati dan belahan jiwanya.
Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisiMu, pasangan yang juga menjadi sahabat dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat'. Wallahua'lam
Oleh Pramana Asmadiredja
Meriahkan Dunia Dengan Menikah

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.
Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.
Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.
Duhai...Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.
Allah SWT telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya?
Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam (komitmen) menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?
Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana.
Selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.
Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa.
Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Tausyiahlah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.
Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya. Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang.
Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa. Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Songsonglah hari bahagia nan suci. Wallahu’alam
Sumber: http://pangerans.multiply.com
Pertimbangan Dien dalam Menentukan Pasangan

"Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata." (HR. Turmudzi).
Mungkin hadits pertama lebih populer di kalangan wanita muslim dibanding hadits kedua. Begitu juga sebaliknya, hadits kedua lebih populer di kalangan pria muslim dibanding hadits pertama.
Hadits pertama terasa memberikan perlindungan kepada wanita dari pandangan-pandangan berlandaskan nafsu. Memberikan perlindungan kepada wanita solehah agar tidak tersingkir dari peluang dinikahi hanya karena hitungan duniawi. Itulah mengapa hadits pertama lebih populer di kalangan wanita mukmin. (Mungkin… Saya belum pernah mengadakan survey ilmiah).
Ayat lain yang memberikan perlindungan yang sama ada pada QS Al-Baqarah 221.
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…"
Peringatan "engkau akan celaka" pada hadits peratama adalah peringatan yang serius dari Rasulullah terhadap pria mukmin. Mengesampingkan pertimbangan keimanan saja sudah menjadi sebuah kecelakaan yang serius. Dan lebih serius lagi karena terjadi untuk membangun sebuah lembaga bernama pernikahan.
Apabila menikah itu menggenapkan separuh dien, karena selama membujang itu dien kita belum ‘genap’, lalu bagaimana mungkin dien itu ditambal oleh dunia yang dalam pandangan Allah tidak lebih bernilai dari sayap nyamuk? Bukankah seharusnya dien itu pun ditambal dengan dien pula sehingga genap, yaitu pernikahan yang berlandaskan keimanan!!! Bisakah pernikahan berlandaskan nafsu menambal dien yang belum genap dari seorang bujangan?
Begitu pula hadits yang kedua, juga memberikan perlindungan kepada pria mukmin dari penolakan yang tidak berlandaskan pertimbangan agama. Sehingga hadits tersebut lebih populer di kalangan pria mukmin.
Sama seperti hadits pertama, atas pengabaian pertimbangan agama, ada ancamannya. Kali ini berupa "fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata." Bila pada hadits pertama ancaman hanya pada pria itu sendiri, di hadits kedua ancamannya lebih besar lagi.
Bisa dimengerti mengapa ancaman pada hadits kedua lebih besar lagi. Bila seorang pria mukmin yang menikah karena alasan dunia yang ada pada seorang gadis yang tidak begitu baik agamanya, pria tersebut - bila keimanannya baik - masih bisa membimbing keluarganya kepada keimanan. Meskipun usahanya akan mendapat hambatan karena agama yang kurang baik dari istri.
Tapi bila seorang wanita tidak dilepas kepada seorang pria yang baik agamanya, lalu akhirnya jatuh kepada pria yang tidak baik agamanya, maka keluarga yang dibentuknya akan dibawah bayang-bayang buruknya agama sang kepala keluarga. Pada akhirnya, sulit untuk membentuk keluarga yang islami.
Bahayanya jauh lebih besar dari yang pertama.
Ala kulli hal, memang fitrah manusia kadang tidak bisa lepas total dari sebuah pertimbangan. Tentang kecenderungan terhadap yang cantik, atau kaya, atau baik keturunan. Rasulullah tidak melarang kita menikahi yang cantik, kaya, bangsawan. Tapi Rasulullah hanya memerintahkan agar menyertakan penilaian dien atas sebuah pertimbangan, dan menjadi penilaian yang dominan. Tanpa itu, kecelakaan menghampiri.
Yang tidak boleh terjadi, penggunaan yang tidak benar atas dua hadits pada awal tulisan. Bagi pria, hadits tidak boleh menolak orang yang akhlaknya baik, tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksakan pinangannya. Padahal pria tersebut juga harus mengamalkan hadits pertama terlebih dahulu.
Dan bagi wanita, tidak boleh ada cibiran atas nama hadits kedua bila seorang pria menikah dengan seorang wanita yang cantik. Merasa akhlak & diennya lebih baik dari wanita yang dinikahi pria idolanya, lalu menuding si pria telah meninggalkan hadits pertama.
Allahu’alam bish-showab.(andaleh)
Hakikat Cinta

Saya ingin kembali melakukan pembahasan tentang ini, karena ini sangat penting untuk bekal kita melangkah kedepannya. Tapi untuk pembahasan kali ini saya ingin menghadirkan ustadz Syatori Abdurrouf -semoga Allah subhanahuwata'ala memuliakan beliau- ketengah-tengah anda. Ini adalah tulisan yang saya salin dari rekaman taujih beliau tentang Hakikat Cinta. Semoga menjadi amal untuk beliau Rahimahullah, dan kita bisa memetik ilmu atas apa yang beliau sampaikan dan ajarkan.
***
Bagaimana islam mengatur persoalan-persoalan cinta. Dalam hal ini kita sepakat bahwa cinta merupakan perasaan, perasaan hati. Oleh karena itu cinta adalah sesuatu yang abstrak. Kalau cinta sesutu yang abstrak maka cinta sesungguhnya tidak bisa dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat kongkret. Artinya, kita mencintai sesuatu itu karena memang kita mencintainya.
Jadi kalaupun kita ditanya kenapa anda mencintainya? Yaitu sesutu yang sulit untuk di kongkirtikan karena dia sesuatu yang abstrak. Kenapa anda mencintai benda ini, kenapa anda mencintai orang itu, sulit untuk di kongkritkan. Kalaupun ada yang mencoba mengkongkritkan perasaan cinta itu dengan alasan-alasan yang kongkrit maka sesungguhnya itu menunjukkan dia tidak mencintainya sebagaimana mestinya. Jadi kalau ada yang mengatakan kepada anda, saya mencintai anda karena gagah, karena anda punya banyak pengikut, atau seorang suami kepada istrinya karena adinda cantik, jawaban seperti itu menunjukkan kalau dia sesungguhnya tidak mencintai.
Saya katakan tidak mencintai. Kalaupun yang dia cintai hal-hal yang sifatnya kongkret, sehingga logikanya ketika seseorang mencintai sesutu yang kongkret maka ketika kekongkretan itu hilang, maka cinta itupun akan hilang. Maka kembali dikatakan cinta itu merupakan sesuatu yang abstrak, karena dia sesuatu yang abstrak maka dia tidak bisa dikait-kaitkan dengan sesuatu yang kongkret. Kita mencintai sesuatu karena memang kita mencintainya.
Ini adalah hakikat cinta dalam tinjauan umum. Lalu apakah ada konsep cinta didalam islam?
Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sehingga cinta inipun ada didalamnya. Dalam islam, cinta itu lebih merupakan adalah anugrah Allah subhanahuwata’ala. Oleh karena itu cinta dalam pandangan seorang muslim yang taat merupakan sesuatu yang tidak perlu diupayakan. Seorang muslim ketika dianugrahkan cinta kepada sesuatu, maka cinta itu akan hadir begitu saja tanpa dia kuasa menolaknya. Jadi dia tidak perlu mengusahakan hadirnya cinta itu dan diapun tidak merasa perlu menolak cinta itu, karena cinta itu lebih merupakan anugrah Allah subhanahuwata’ala.
Kalau Allah subhanahuwata’ala telah menganugrahkan sesuatu kepada seseorang, siapapun tidak akan ada yang bisa menolaknya begitupun ketika Allah subhanahuwata’ala tidak memberikan sesuatu kepada seseorang. siapapun tidak akan ada yang bisa mengusahakannya dengan prinsip yang terkait dengan masalah-masalah akidah.
Persoalannya nanti adalah kapan rasa cinta itu tumbuh kepada sesuatu atau kepada seseorang? Dalam hal ini, akan berbanding lurus dengan seberapa jauh kekekalan cinta dia kepada Allah subhanahuwata’ala. Jadi cinta dia kepada selain Allah subhanahuwata’ala lebih merupakan semacam refleksi dari cinta dia kepada Allah subhanahuwata’ala. Dalam arti kata ketika seseorang muslim betul-betul mencintai Allah subhanahuwata’ala maka Allah subhanahuwata’ala akan mengaruniakan rasa cinta kepada dia, kepada siapa saja yang dicintai Allah subhanahuwata’ala, dan ini akan sesuai dengan cinta dalam konteks umum tadi, sesuatu yang memang bersifat abstrak.
Jadi kok tiba-tiba saja saya mencintai dia, dimana dia notabenenya adalah memang orang-orang yang dicintai Allah subhanahuwata’ala. Inilah nanti hakikat dari makna dalam kajian akidah, bahwa salah satu hikmah seseorang yang betul-betul mencintai Allah subhanahuwata’ala dia pasti akan mencintai siapa saja yang dicintai Allah subhanahuwata’ala.
Salah seorang ulama yang merupakan guru dari imam syafi’I, dia pernah berhujah bahwa barang siapa yang mencintai Allah subhanahuwata’ala maka dia akan mencintai siapa saja yang dicintai Allah subhanahuwata’ala, meskipun dia belum lama bergaul dengan orang tersebut, meskipun sebelumnya mereka belum saling kenal, tapi dari pandangan pertama dia akan faham bahwa ini adalah orang yang dicintai oleh Allah subhanahuwata’ala. Maka timbullah mahabbah dalam istilah Rasulullah shallallahu’alahiwassalam dikatakan dua orang yang saling mencintai.
Jadi cinta itu tumbuh begitu saja. Tidak tepat ketika sebuah pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Hal ini tidak berlaku didalam pandangan islam. Meskipun mereka tidak saling mengenal siapa dia, siapa saya, tapi kalau keduanya adalah orang-orang yang sama-sama mencintai Allah subhanahuwata’ala maka begitu bertemu akan saling tumbuh rasa saling mencintai itu. Siapa yang menumbuhkan itu? Itulah Allah subhanahuwata’ala. Oleh karena itu, untuk membangun cinta itu dalam islam tidak harus mengenali orang yang hendak kita cintai itu luar dalam. Selama kita mencintai Allah subhanahuwata’ala dan dia juga mencintai Allah subhanahuwata’ala, pada pandangan pertama InsyaAllah rasa cinta itu sudah tumbuh dengan sendirinya jikapun kita menolaknya kita tidak akan mempu menolaknya meskipun barangkali suara nafsu kita, suara nafsu kita tidak akan pernah diam.
Antum kok mencintai orang yang tidak cantik, orang yang tidak gagah, orang yang tidak kaya atau orang yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, tapi semua itu akan mudah dilibas oleh cinta kita kepada Allah subhanahuwata’ala. Sehingga dalam hal ini persaingannya adalah antara SEJAUH MANA CINTA KITA KEPADA ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA DAN SEJAUH MANA KEDEKATAN KITA DENGAN NAFSU KITA. Itulah yang akan menentukan siapa yang akan kita dicintai dan kita akan dicintai oleh siapa.
Jadi kembali pada awalnya adalah sejauh mana kita mencintai Allah subhanahuwata’ala.
Oleh karena itu, salah satu diantara rahasia kenapa orang-orang dahulu selalu sukses membina berbagai macam bentuk kebersamaan, baik kebersamaan dalam dakwah, kebersamaan dalam jihad atau dalam membangun keluarga, itupun semua karena mereka menetapkan cinta mereka kepada Allah subhanahuwata’ala sebagai awal sebelum mereka mencintai yang lain. Dalam arti kata, biarlah cinta saya kepada orang lain itu diatur oleh Allah subhanahuwata’ala, sehingga menikah tanpa pernah tau siapa calon istri saya, siapa calon suami saya, tidak masalah. Karena ketika bertemu langsung, cinta itu tumbuh meskipun mungkin secara lahiriyah suami itu tidak melihat kecantikan pada calon istrinya bagitupun istri tidak melihat ketampanan pada calon suaminya.. Tapi semua itu akan muda dilibas oleh kekuatan cinta kepada Allah subhanahuwata’ala, maka tidak akan ada sikap menyesal atau kecewa, yang ada adalah hanya sikap saling mencintai dengan tulus yang disandarkan pada Allah subhanahuwata’ala.
Kita kembali pada “barang siapa yang mencintai siapa yang dicintai Allah subhanahuwata’ala maka dia akan mencintai apa saja yang dicintai oleh Allah subhanahuwata’ala” dan inilah merupakan suatu hikmah. Jadi kalau kita mencintai ahli ibadah mesti kita akan mencitai ibadah, kalau kita mencintai orang-orang yang suka membaca Al Qur’an, insayAllah kita akan suka dengan membaca Al Qur’an, karena antara pelaku dengan apa yang dilakukan tidak bisa dipisahkan dalam masalah kebaikan. tidak mungkin seseorang mencintai ahli dzikir sementara dia tidak suka zikir, dan tidak mungkin seseorang mencintai seorang ahli ibadah kalau dia tidak pernah ibadah.
Ini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh aulia-aulia, kekasih-kekasih Allah subhanahuwata’ala. Sehingga siapaun yang memiliki sifat ini maka dia tidak akan pernah merasakan takut dan tidak pernah merasa cemas. Allah subhanahuwata’ala sendiri yang mengatakan “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah subhanahuwata’ala, tidak ada rasa ketakutan dan mereka juga tidak pernah ada rasa sedih”. Ini adalah satu resep orang hidup bahagia. Orang yanghidup bahagia tidak akan pernah merasa takut, tidak akan pernah merasa cemas karena Allah subhanahuwata’ala selalu bersama.
Rasulullah shallallahu’alahiwassalam mengungkapkan kepada kita beberapa kemestian orang yang mencintai Allah subhanahuwata’ala. Yang dengan kemestian-kemestian tersebut kita bisa mengukur cinta kita kepada Allah subhanahuwata’ala sudah benar atau belum.
1. Lebih memilih ucapan kekasihnya ketimbang selain ucapan kekasihnya
2. Lebih memilih bergaul dengan kekasihnya ketimbang bergaul dengan selain kekasihnya
3. Lebih memilih keridhaan kekasihnya dari pada keridhaan selain kekasihnya
Disinilah akan terbukti seberapa jauh tingkat cinta kita kepada Allah subhanahuwata’ala. Lebih memilih Allah subhanahuwata’ala atau orang lain. Komitmen cinta seorang muslim akan di uji di sini.
Cinta dihadapkan pada 2 unsur, unsur nafsu dan unsur rabbani. Saya sering dihadapkan pada banyak pertanyaan, “saya tidak bisa mencintai dia padahal dia orang yang baik, padahl dia bertakwa, padahal dia orang yang taat” ya tentu saja jawabannya adalah bahwa itu menunjukkan anda belum sepenuhnya baik, anda belum sepenuhnya takwa, anda belum sepenuhnya mencintai Allah subhanahuwata’ala. Jadi kalau memang sudah begitu masalahnya, sesungguhnya tidak ada problem. Kita mesti mencintai siapa saja, apa saja yang dicintai Allah subhanahuwata’ala. Jika ada teman yang mengatakan dia itu baik, dia itu din-nya baik, dia itu akhlaknya baik, dia itu akidahnya, dia itu ibadahnya baik, insyaAllah rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa kita harus tau mengorek siapa dia sesungguhnya, mengoreknya yang sifatnya fisik, yang sifatnya lahiriyah dan duniawiyah.
Kita itu kadang menganggap sesuatu itu sebagai sesuatu yang sulit, saya rasa bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah karena kita lama, lama tidak lagi mencoba, lama tidak lagi mengenalinya dengan baik. Sehingga ibarat orang pernah bersepeda, karena telah lama tidak bersepeda sehingga terasa sulit ketika bersepeda lagi. Bagitupula barangkali gambaran orang-orang yang sebenarnya mencintai Allah subhanahuwata’ala, kemudian lama Allah subhanahuwata’ala tidak dicintai seolah-olah untuk mencintai Allah subhanahuwata’ala begitu amat sulit. Saya rasa bukan masalah sulit atau tidak sulit tapi menyangkut masalah penjiwaan kita pada hakikat cinta ataupun hakikat-hakikat yang lain itulah yang kemudian dituntutkan kepada kita semua untuk lebih memperdalamnya lagi.
Mudah-mudahan Allah subhanahuwata’ala mempermudah kita untuk mencintai Alalh subhanahuwata’ala dan mencintai siapa saja yang dicintai Allah subhanahuwata’ala.
Ada orang-orang bodoh yang frustasi ketika cintanya di tolak. Saya hanya mencoba untuk menyampaikan kembali apa yang telah pernah disampaikan oleh Hasan Bisri. Jadi Hasan Bisri pernah mengatakan “barang siapa yang mencintai selain Allah subhanahuwata’ala, cintanya tidak dia nisbahkan kepada Allah subhanahuwata’ala (berarti cintanya diletakkan pada fisik, duniawiyah) ini adalah karena bodohnya dia, karena kurangnya dia dalam mengenali Alalh subhanahuwata’ala”
Rasulullah shallallahu’alahiwassalam juga pernah memerintahkan kita “cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah subhanahuwata’ala”
Jadi mestinya ketika seorang muslim mencintai sesuatu, adakah ini merupakan refleksi cinta saya kepada Allah subhanahuwata’ala, kalau ada maka itulah yang menjadi pegangan kuat kita untuk mencintai dia. Tapi persoalanya kemudian sulit ketika cinta itu disandingkan pada hal-hal fisik lahiriyah, sehingga menunjukkan dia orang yang bodoh. Sehingga memang ketika cinta dia tertolak oleh orang lain, diapun akan memutuskannya dengan kebodohan dan ketidaktahuan atau kekurangan cintanya kepada Allah subhanahuwata’ala. Jadi ketika kemudian ada orang mengatakan “saya mencintai anda”, kita harus balik bertanya atas dasar apa anda mencintai saya? Kalau dia mengatakan karena anda cantik, anda tolak cinta itu, itu cinta semu, itu cinta palsu. Tapi kalau dikatakan saya mencintai anda, saya tidak tau siapa anda, saya tidak pernah lihat anda siapa, saya tidak tau anda punya kekayaan atau tidak, tapi saya dengar anda adalah orang yang baik din-nya, maka terimalah cinta orang seperti itu, maka cinta itu akan langgeng selama-lamanya, tidak hanya didunia tapi juga di akhirat.
Jadi terapinya sekali lagi, semuanya kembali kepada kita semua, sejauh mana kta menemukan Allah subhanahuwata’ala dalam seluruh objek-objek alam semesta yang kita jumpai ini.
Wallahualam
***
Oleh : Faguza Abdullah
Segerakanlah
Begitu banyak saat ini ikhwan dan akhwat yang “sebenarnya” sudah cukup mampu untuk menikah. tapi justru mengulur-ngulur waktu pernikahan dengan cara mempersempit berkah Allah ta’ala terhadap pribadinya.
Begitu banyak anjuran menikah yang di sampaikan oleh Allah ta’ala di dalam kitab cintanya begitupun dengan hadist-hadist rasulullah saw dan juga yang telah dicontohkan oleh para sahabat rasulullah saw. tapi ntah dalam konteks apa justru mereka mempersempit ruang ini dengan berbagai alasan yang semakin mengahncurkan nilai-nilai tauhidullah didalam hati-hati mereka mereka sendiri.
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni'mat Allah ?" (An-Nahl [16]:72)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Ruum [30]:21)
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An-Nuur [24]:32)
Inilah sebagian ayat-ayat Allah ta’ala yang menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyegerakan menuju mahligai pernikahan. Bagaimana Allah ta’ala menyampaikan, kehadiran seseorang yang halal didalam kehidupan kita akan memberikan sebuah ketentraman yang mungkin selama ini belum pernah kita rasakan, kemudian adanya kesempurnaan rasa kasih dan sayang dan tentunya hal ini hanya bagi orang-orang yang mau berfikir, merenung dan bermuhasabah tentang kehidupannya. Dan ada sebuah janji Allah ta’ala dalam hal ini kepada orang-orang yang takut apabila nantinya justru akan memikul beban yang berat ketika menjalani sebuah pernikahan. seperti yang disampaikan oleh sayyid sabiq dalam fiqh sunnahnya bahwa Allah ta’ala akan memberikan jalan kecukupan, menghilangkan kesulitan-kesulitan dan memberikan kekuatan untuk mengatasi kemiskinan sesuai dengan firman Allah ta’ala pada ayat cinta di atas.
kemudian mari kita merujuk kepada bagaimana cara Rasulullah saw menganjurkan kita untuk menyegerakan menuju kedalam sebuah maghligai yang menyampurnakan keimanan.
Hadist Tirmidzi dari Abu Huraira bahwa Rasulullah saw bersabda, tiga golongan yang berhak ditolong Allah : "pejuang dijalan Allah, mukatib (budak yang memerdekakakn dirinya sendiri dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan orang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram”
Bukhari dan muslim meriwayatkan dari Anas bahwa beliau bersabda “Tiga orang pernah datang kesalah satu rumah istri Nabi saw, untuk menanyakan tentang ibadah beliau saw. setelah mendengar keterangan tentang apa yang ingin mereke ketahui itu, maka mereka merasa bahwa diri mereka sangat kecil. lalu mereka berkata, “seberapalah kita ini kalau diabndingkan dengan Nabi saw, padahal belau telah diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang?” orang pertama menjawab, ‘aku akan mengerjakan shalat malam selama-lamanya.’ orang kedua menyahut ‘aku akan senantiasa berpuasa dan tidak akan meninggalkannya.’ orang ketiga menjawab ‘aku akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah seumur hidupku.’
kemudian Rasulullah saw mendatangi merek, lalu bersabda ‘Kaliankah tadi yang berkata begini dan begitu? demi Allah, bukankah aku ini orang yang paling bertakwa kepada Allah, tapi aku tetap berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, juga menikah. barangsiapa membenci sunnahku, berarti ia bukan dari umatku”
Bukhari dan muslim kembali meriwayatkan Dalam hadist abu Dzar disebutkan, Nabi saw bersabda “pada persetubuhan salah seorang diantara kalian adalah sedekah” mereka bertanya “wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami melapiaskan syahwatnya dan mendapatkan pahala?” Nabi saw balik bertanya, “Bagaimana menurut kalian, jika ia melampiaskan dalam keharaman, bukankah ia mendapatkan dosa? demikian juga ia melampiaskannya dlaam kehalalan, maka ia mendapatkan pahala”
Kemudian Bukhari dan muslim kembali meriwayatkan hadist dari Ibnu Mas’ud ia berkata, Rasulullah saw berkata kepada kami : “Wahai para pemuda, barnagsiapa diantara kamu yang mampu ba’ah (memberikan nafkah lahir batin), maka hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena hal itu menjadi perisai baginya”
Abu malik kamal bin as-sayyid salim menjelaskan dalam kitab fiqh sunnahnya bahwa yang dimaksud dengan ba’ah adalah biaya dan ongkos pernikahan, karena sabda nabi ini ditujukan kepada orang yang telah mempu berjima’. sedangkan al-wija’ adalah apa dapat meredam syahwat. Untuk lebih jelasnya lebih baik merujuk pada tulisan arabnya agar lebih jelas dapat dilihat pada Fiqh Sunnah Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim Jilid 4 Kitab Pernikahan terbitan Pustaka at-Tazkia.
Saya ingin menambahkan penjelasan daripada hadist ini, dimana saya menemukan sebuah pembahasan menarik pada buku ustadz Mohammad Fauzil Adhim tentang ba’ah ini.
***
Ada seorang wanita menemui Rasulullah saw. suaminya merupakan seorang yang kaya, tetapi tidak meberikannya nafkah yang cukup kepadanya. lalu kemudian apakah dibolehkan bagi si istri untuk mengambil harta suaminya tersebut tanpa sepengetahuan suaminya sehingga nafkah atau kebutuhannya tercukupi dengan hal tersebut. dan ketika itu Rasulullah saw membolehkannya dengan catatan sebatas yang dibutuhkan saja.
Ibrah yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa kemampuan ekonomi tidaklah selalu menunjukkan kesiapan untuk memberi nafkah. banyak wanita yang terlunta-lunta, menderita kekurangan, bukan karena merasa kurang dengan apa yang diberikan oleh suaminya. melainkan karena suami itu tidak pernah mencukupi kebutuhannya padahal secara ekonomi sang suami mampu untuk memenuhinya.
Nah, atas dasar ini kemudian ustadz fauzil adhim tidak sepakat jika ada yang mengartikan ba’ah ini ditafsirkan sebagai kemampuan ekonomi. Karena justru ‘Ali bin Thalib menikahi putri Rasulullah saw dalam kondisi yang tidak memiliki apa-apa dan untuk memenuhi mahar dia harus menjual baju perangnya. Jika konteksnya ba’ah ini berarti kemampuan ekonomi dalam arti kemapanan, tentu Ali bin thalib tidak akan dinikahkan saat itu. Untuk itu ustadz fauzil adhim berpendapat bahwa ba’ah ini lebih pas jika kita pahami bersama sebagai kesiapan memberi nafkah.
Lalu apa yang dimaksud dengan kesiapan ekonomi dan kesiapan memberi nafkah? Dimakah letak perbedaannya?
Hal ini aka kita bahas nanti. tapi jika tidak sabar beli saja buku ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang berjudul “Saatnya untuk menikah”.
***
Inilah anjuran-anjuran pernikahan yang disampaikan oleh Rasulullah saw. bahwa pernikah tidak akan perna menyulitkan hamba-hamba Nya. justru akan begitu banyak sekali pertolongan-pertolongan Allah ta’ala ketika pernikahan itu diberangi dengan niat-niat untuk memproteksi diri dengan kondisi lingkungan yang semakin jahiliyah. dan teruntuk para ikhwan yang masih bimbang dengan jalan ini, bagaimana sudah saatnya antum untuk merenung dan bermuhasabah diri dan belajar untuk mengenali diri antum dimakah posisi diri antum saat ini? Apakah antum hanya orang yang mempunyai kesiapan secara ekonomi tapi antum tidak sanggup untuk memberikan nafkah atau justru antum orang tidak mempunyai kemampuan ekonomi tapi antum memiliki kesiapan dalam memberikan nafkah?
Para sahabat Rasulullah saw, orang-orang yang telah dijanjikan surga oleh Allah ta’ala mereka tak ketinggalan dalam menganjurkan kepada kita betapa pentingnya menuju pernikahan ini
Bukhari meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, Ibnu Abbas ra berkata kepadaku, “Apakah engkau sudah menikah?” aku menjawab, “Belum” ia berkata “Menikahlah, sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya”
Kemudian dalam kitab Fiqh Sunnah Sayid Sabiq beliau menuliskan bahwa Ibnu Mas’ud berkata “Seandainya umurku hanya tinggal sepuluh hari lagi, tentu aku akan menikah juga karena takut fitnah”
Rasanya cukup sampai disini topik untuk menyegerakan pernikahan, ketika itu telah tiba masanya. dan sudah cukup jelas pula kapan masa-masa itu sesuai dengan yang telah dijelaskan dalam Al Quran, hadist-hadist Rasulullah saw dan juga para sahabat.
Dari keterangan-keterangan di atas saya bukan mengatakn bahwa antum semua bukan tidak mau menikah, tapi kenapa sebuah kesempurnaan ini harus ditunda-tunda karena motivasi dunia yang belum jelas kemana arahnya. motivasi-motivasi yang justru mempersempit cara berfikir kita, mengecilkan yang sesungguhnya begitu luas rezki Allah ta’ala bahkan mungkin kita sendiri telah menciptakan sebuah berhala yang bernama materialisme seperti yang disampaikan oleh ustadz Cahyadi Takariawan dalam bukunya Dijalan Dakwah Aku Menikah.
Wallahualam
Oleh : Faguza Abdullah

